Ketika hati tertutup kabut, mampukah mentari mencuri celah untuk masuk?
Ketika senyum terganjal kaku, mampukan tawa menganti untuk menghibur?
Ketika rindu terasa, bukan mulut yang bicara melainkan hati yang merasa.
Ketika khawatir terlintas, bukan mulut yang berucap melainkan tubuh yang begerak.
Bahagia ketika melihat senyum nan manis itu terlihat. Bahagia ketika melihatnya tertawa lepas saat bersamaku.. Jika dia ditakdirkan untukku, bawa dia menjadi Imamku menuntunku mengikuti langkahnya menuju surgaMu. Aamiin..
-DM, 16 Maret 2015-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar